Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Karangan Bebas

Penghapus Elegi

Logika pernah memimpin,  Perasaan juga berperan.  Menyangkali keberadaanmu,  Telah menyesatkanku.  Kini... Yakinku berdiri menepis semu. Hadirmu nyata membawa harap bagi lara,  Menghapus elegi  Menuju kepastian bahagia tanpa akhir.

Sugar, Lime, Salt (Bagian 2)

Saat lelah tidak dapat terobati dengan beberapa istirahat, sebuah  pulang  bisa menjadi penawarnya. Saat aku memilihmu sebagai sahabat tidak ada yg perlu ku kuatirkan.  Aku tahu, engkau ada juga mendengarkan. ~What a friend I have in J~ Sudah banyak ke cantik an sirna, hanya dalam jiwamu aku menemukan pesonanya. Ia melekat pada perangaimu, menyembul melalui lakumu. ~Ibu~ Peperangan terpanjang dan terhebat adalah tentang melawan diri sendiri, tentang membumikan ego , lalu menang atasnya. Aku tidak tahu seperti apa itu ketenangan sampai aku melihatmu menutup mata, tertidur dengan damai  mengakhiri peperangan terpanjang dalam hidup. 

Sugar, Lime, Salt

Perlu sekali dua kali nyatakan cinta pada diri sendiri, agar kamu tidak akan pernah  kehilangan apapun.  ~Self Love Challenge~ Hubungan tanpa tatap, Yang setia pada jarak. ~Long Distance Relationships~ Mengiris waktu lalu menebas jarak, Rinduku berdarah-darah menujumu.  Adakalanya kita perlu disemangati ,  Tanpa harus sedetail mungkin membeberkan apa yang sedang terjadi. Tak ada yang perlu diingat dari kita yang lalu, mereka pergi  ketika hari itu berakhir. Membawa sekaligus cinta dan pemenuhan kata maaf. Beberapa peristiwa yang terjadi sebenarnya sedang memaksa kita untuk sadar bahwa ada hal yang tidak seharusnya dimiliki Mengecap manisnya, lalu menelan pahitnya.  Hidup telah memberikan yang semestinya patut diterima  Ada yang memilih bersama bukan karena mereka bertahan,  Mereka hanya takut sendiri. Beberapa hal tidak bisa dihindari, Berhati-hatilah hingga bertemu bahagia.  Serumit ini terjebak dalam pemikiran sendiri,  Ketika berusa...

Hanyut

...  Nelayan tua memancing ikan berangan berdua ke pelaminan Tak kuduga kita pacaran Betatap-tatapan di bawah rembulan Menarik layar bertolak ke laut Tanpa kabar dirimu hanyut Pikiranku kalut berlarut-larut Nyatanya kau telah terpaut ... 

Bocah dengan Jaring Penangkap Kupu-kupu di Bahu

... Aku ingat ketika bcah ingusan berumur tujuh tahun mendatangi rumah neneknya Menghabiskan masa kecil mencipta senandung anak kampung , terinspirasi dari suara Angin dan ombak. Bernyanyi di bawah rembulan saat bulan sibuk memamerkan cicinnya, menerka di mana kura-kura akan bertelur Mendengarkan radio tua yang antenanya dipasang di ujung pohon sukun, Menulis sepucuk surat untuk mama, amplopnya direkatkan  dengan buah pohon lem. Menjemur baterai senter soak,  Mengisi minyak pada pelita, Mendayung sampan, mengaitkan umpan pada kail, Merangkai makhota dari bunga liar, Mengejar capung di padang rumput.  Dia pindah ke rumah ibu ketika berevolusi menjadi anak remaja Tidak lagi menulis surat untuk mama, yg dikirimi adalah sang nenek.  Saat yang lain ke sekolah menggunakan angkot, dia lebih suka berjalan kaki katanya ingin berkenalan dengan kota itu. Dia masih mendengarkan radio, kali ini membeli kupon kirim-kirim pesan kepada teman., Mengahafalkan lagu-lagu hits 2000an, Te...

Senandung Anak Kampung

...  Aku si anak pejaga api, Duduk di depan tungku memegang buku menambah ilmu, sembari mematangkan nasi Menjaga nyalanya, menambah semangat  Aku anak sang nelayan,  Menyelam bukan untuk rekreasi Berenang bukan untuk merusak Pacing di bahu, *bore kutinggal Aku belajar memahami laut Aku cucu sang petani, Musuhku si rumput liar, hujan sahabatku Berbekal bibit kutumbuhi jagung Menjadi tekun itu pesan buyut Aku si anak kampung,  Ombak dan angin bersenandung untukku di atas batu karang tajam aku dididik Agar tak lupa petuah para tetua ... Petrichor *Bore adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh di sekitar jurang terjal dekat laut. Getah pada tumbuhan ini biasa digunakan untuk memabukkan ikan yang terperangkap saat laut surut. 

Pengakuan

...  Aku menjadi layu lemah dan berantakan Lalu aku mencarinya Aku sadar, kadang aku melupakannya kadang aku marah padanya kadang hanya datang saat terpuruk Aku tahu dia selalu membuka tangan menyambutku.  Aku hanya takut dia memalingkan muka dan mendatangkan marah karena aku telah menyia-nyiakan kesempatan.  Kini aku merindukannya, ini sangat berbeda.  Biarlah rindu ini tidak sebatas kataku,  Biarlah rindu ini menetap sampai ke kedalaman hati, Biarlah rindu ini tak terbatas selama aku ada,  Biarlah rindu ini menjadi sebuah temu,   Biarlah rindu ini terpenuhi dengan setiap perkataannya. Biarkan kerinduanku seperti ini agar aku selalu mengingatnya, agar aku mampu membangun sebuah emosi dengannya Aku begitu merindukannya... Petrichor 

Lupa

... Biasanya Jarang melontarkan keluh Tapi belakangan ini ia sering merengek kadang berontak Memohon kepada yg empunya Langit Bertanya sampai kapan tetap pada titik ini Sampai-sampai doanya terdengar seperti paksaan bukan lagi permohonan. Yang dilihat orang dia cukup beruntung pada titik itu Yang dirasakannya berbanding terbalik Dia menjadi tidak sabaran Apakah karena hasil membandingkan diri dengan orang lain?  Atau tak cukup mampukah merangkak? Mungkin ada yang dilupakannya perihal Penerimaan diri ataukah rasa syukurkah yang dilupakannya di sela kesibukannya? ...

Merayakan Kesedihan

... Perihal merayakan kesedihan; Kadang hanya perlu merengek sebentar Kadang hanya perlu membaginya Kadang hanya diam menyendiri Kadang ingin semua orang tahu Kadang hanya butuh makanan enak Kadang hanya perlu berlama-lama tidur Kadang hanya butuh jalan-jalan Kadang menghibur diri sendiri Kadang perlu dihibur dan diperhatikan Kadang mencari perhatian Dan kadang menghabiskan uang Akhirnya, Kita hanya perlu menumpahkannya. ... Petrichor

Menikmati Penyesalan

... Bunga itu sudah layu dan kering, tidak lagi ada warna yang menarik perhatian. Warna  yang kecokelatan itu tanda kuatnya ia melewati satu musim lalu, saat menunggu untuk kau perhatikan. Kini Pandanganmu berubah , Mimikmu berkata kau telah kehilangan waktu mekarnya. Adalah pemandangan langka melihat kau diam-diam menyimpan sesal yang teramat memilukan. Aku menikmati penyesalanmu ... Petrichor

Sejalan

... Sejauh ini kita berjalan. Kadang bersisian, kadang ada sedikit jarak. kadang ku mengengam, kadang  kau menggandeng. Kadang kau berlari menyamakan jarak, kadang ku menahan kaki untuk tidak berlari. Kadang mengobrol sepanjang perjalanan, kadang diam dengan pandangan kosong. Kadang banyak berbicara tentang kita, kadang hanya membicarakan hal konyol. Kita sama-sama tahu untuk apa ada pada jalan ini. Lalui saja, toh kita masih bersama. ... Petrichor

Meracau

... K au bercermin pada air beriak, bayanganmu goyang Lantas.. Pantaskah kau sebut dirimu kupu-kupu, sedang terlihat nyata kau bukan. Kenapa harus berkata aku mencari muka sedang kau sendiri tidak cukup bijak menyikapi bagianmu.  Aku berdiri dengan kedua kakiku bukan uluran tanganmu. Berhentilah menudingku. Baiknya berilah nilai pada dirimu bukan orang lain. Oke... Kau bebas meracau, hanya saja kau telah  memudarkan hubungan. ...  Petrichor

Bebaslah...

... Sudah ku lepas semua yang kupikirkan dan semua yang tertahan di dalam dada. Memang tidaklah mudah mengumbar pada orang asing, hanya saja melakukannya agar tak perlu kuatir. Bebaskanlah... Bahwa membiarkannya terkurung dalam isi kepala bukan menjadi pilihan tepat, menjadi diam pun hanya akan merusak amigdala dan melukai sisi emosional diri. ... Petrichor

Terlihat Serupa

... Bukankah bersandaran kursi, melipat kaki menghirup aroma kopi hitammu sambil membahas berita topik hangat adalah kesukaanmu? Belakangan ini kerap kali aku melakukannya. Tak sadar aku menyerap dan menjalani semua kebiasaanmu; Mengutip perkataanmu, mendengarkan lagu kesukaanmu, membeci hal yg kau pantangi, berpikir sepertimu, bahkan menyelesaikan suatu hal dengan caramu. Aku bersikeras meyakinkan diri bahwa inilah jati diriku. Tanpa sadar aku telah berubah menjadi seperti dirimu. ... Petrichor